Dengan Adanya Genset Produksi Kestrel Diharapkan Dapat Meningkat

PT Adaro Energy Tbk bersama EMR Capital Ltd resmi mengakuisisi 80 persen saham perusahaan tambang di Australia, Kestrel Coal Mine. Presiden Direktur Adaro, Garibaldi Thohir, mengatakan perusahaan ingin meningkatkan produksinya pascaakuisisi. “Secara bertahap akan naik sekitar 7 juta metrik ton batu bara di tahun berikutnya,” ujarnya di Jakarta kemarin. Menurut Garibaldi, hingga akhir 2018, produksi batu bara di Kestrel diproyeksikan mencapai 4,8 juta metrik ton.

Tahun lalu, tambang yang terletak di sebelah utara Kota Emerald, Negara Bagian Queensland, Australia, itu memproduksi 4,25 metrik ton batu bara metalurgi. Ia mengatakan cadangan yang dapat dijual (marketable reserves) mencapai 146 metrik ton dan sumber daya nya mencapai 241 metrik ton. Adaro dan EMR Capital menuntaskan proses akuisisi pada Rabu lalu. Menurut Garibaldi, proses yang dimulai pada akhir Maret 2018 itu terbilang cepat.

Adaro dan EMR sudah membentuk perusahaan patungan yang mengoperasikan Kestrel bersama Mitsui Coal Australia, yaitu Kestrel Coal Resources Pty Ltd. Dalam perusahaan patungan itu, Adaro memiliki 48 persen saham dan EMR mengantongi 52 persen saham. “Akuisisi ini bagian dari ekspansi strategis kami,” kata Garibaldi. Pengusaha yang akrab disapa Boy Thohir itu mengatakan total valuasi pembelian saham menyentuh angka US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 37,2 triliun. Jumlah itu terdiri atas 60 persen pinjaman dan 40 persen ekuitas. Karena proses transaksi sudah tuntas, menurut Boy, dari sisi kontribusi pendapatan, Adaro sudah bisa menikmatinya terhitung pada tahun ini. “Untuk pinjamannya, kami dapatkan dari 14 perbankan, baik internasional maupun nasional,” ucapnya.

Guna meningkatkan produktifas kerja, jumlah mesin genset yang berasal dari jual genset makassar akan ditambah beberapa unit. Mesin yang digunakan berkapasitas besar karena jumlah listrik yang dibutuhkan juga besar.

Ihwal target pemasarannya, Garibaldi menyatakan, kawasan Asia Tenggara, India, dan Jepang masih menjadi pasar utama. Di tengah tingginya permintaan akan batu bara saat ini, dia optimistis target pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) di kisaran US$ 1,1-1,3 miliar. Sebelumnya, sepanjang kuartal pertama 2018, produksi batu bara Adaro turun menjadi 10,95 juta ton. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, total produksi batu bara emiten berkode saham ADRO itu mencapai 11,86 juta ton. Penjualan pun ikut melemah menjadi 10,93 juta ton pada tiga bulan pertama 2018, dari sebelumnya sebesar 12,03 juta ton.

Garibaldi menyatakan penurunan itu tidak lepas karena faktor cuaca, yaitu tingginya curah hujan yang mengganggu operasional. Kendati demikian, pendapatan perusahaan tersebut mengalami kenaikan karena didorong oleh meningkatnya harga jual batu bara saat ini. Tercatat, pendapatan perusahaan menyentuh US$ 763,96 juta, naik dari kuartal pertama 2017, yang mencapai US$ 726,55 juta. Garibaldi optimistis hingga akhir tahun target penjualan batu bara bisa menyentuh angka 54-56 juta ton. “Ada peningkatan permintaan di pasar karena kebutuhan yang tinggi di Jepang. Anggota Asosiasi Analis Efek Indonesia, Reza Priyambada, menilai langkah Adaro mengakuisisi Kestrel memberikan katalis positif bagi kinerja perusahaan di masa mendatang. Menurut dia, kehadiran Adaro di Kestrel bisa menyumbang kesinambungan pendapatan perusahaan. “Setidaknya bisa meningkatkan volume produksi Adaro,” ucapnya.

Reply