Dam dan Larangan Saat Ibadah Haji dan Umrah

Dam dan Larangan didalam Ibadah haji dan Umrah
a. Dam
Istilah dam berasal berasal dari kata bahasa Arab berarti secara bahasa adalah darah. Menurut syara’ adalah menyembelih binatang tertentu sebagai sanksi pada pelanggaran atau gara-gara meninggalkan sesuatu yang diperintah didalam rangka pelaksanaan ibadah haji dan umrah atau gara-gara mendahulukan umrah berasal dari pada haji (haji tamattu’) atau gara-gara laksanakan haji dan umrah secara seiring yairu haji qiran (Abdul Azis Dahlan,1996:244).
Binatang ternak yang bisa dipergunakan sebagai dam pada lain kambing, unta atau sapi di tanah haram untuk mencukupi ketetapan manasik haji. Penyembelihan bintang ternaklah yang diprioritaskan untuk membayar dam (sanksi), waktu bentuk-bentuk lain semata-mata merupakan pengganti.
Dam terdiri berasal dari 2 (dua) jenis, yakni :
a) Dam Nusuk gara-gara sebenarnya aturannya demikian dikenakan bagi orang yang mengerjakan haji tamattu’.
b) Dam Isa’ah gara-gara melanggar aturan syara’, layaknya meninggalkan keliru satu harus haji atau umrah pada lain tidak berihram berasal dari miqat, tidak mabit di Muzdalifah, tidak mabit di Mina, tidak melontar jamarah, tidak tawaf wada’ jika bagi wanita haid atau nifas (Depag,2001:80).

b. Larangan-larangan didalam ibadah haji dan umrah
Dalam laksanakan ibadah haji tersedia larangan-larangan yang harus dihindari bagi jamaah, dimulai semenjak berihram berasal dari miqat hingga bersama dengan tahalul tsani. Larangan-larangan itu secara lazim bisa dibagi pada tiga kelompok (Depag,2001: 21), yaitu:
1) Larangan yang memicu batalnya ibadah haji seseorang dan diwajibkan membayar dam (denda), layaknya bersetubuh bersama dengan suami/istri sebelum saat tahalul awal pada tanggal 10 zulhijjah, dan tentu juga juga laksanakan jima’ bersama dengan wanita/pria lain yang tidak dibolehkan menurut syara’.
2) Larangan yang tidak membatalkan haji seseorang, tapi dia harus membayar dam atau fidyah yakni mengerjakan semua yang terlarang sewaktu berihram. Larangan tersebut dijalankan bersama dengan menyadari dan disengaja.
3) Larangan yang tidak membatalkan hajinya dan juga tidak dikenakan membayar dam / fidyah layaknya bergunjing, mengumpat dan sejenisnya. Sekalipun prilaku layaknya itu tidak membatalkan hajinya, tapi bisa kurangi kemabruran haji seseorang itu. Apabila jamaah haji laksanakan larangan layaknya terdapat pada point 3, maka kepadanya dikenakan fidyah bersama dengan alasan merusak ihram (Depag,2001:21).

Berikut ini merupakan tingkah laku yang terlarang selama berihram sebagai tersebut :
a. Khusus untuk jamaah pria :
1) Memakai pakaian biasa / pakaian berjahit
2) Memakai sepatu yang menutup mata kaki
3) Menutup kepala yang menempel layaknya topi, jika tidak menempel dibolehkan layaknya payung, jika gara-gara sakit dibagian kepala yang harus ditutupi.
b. Khusus untuk jamaah wanita
1) Berkaos tangan/ menutup telapak tangan
2) Menutup muka ( kenakan cadar)
c. Bagi keduanya yakni pria dan wanita
1) Memakai parfum jika yang dipakai sebelum saat ihram
2) Memotong kuku, dan mencukur kumis/jenggot, mencabut bulu badan dan sebagainya
3) Memburu dan menganiaya binatang bersama dengan cara apapun jika binatang yang membahayakan.
4) Kawin, mengawinkan atau meminang wanita untuk dinikahi.
5) Bercumbu atau bersetubuh ( rafats ).
6) Mencaci, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor (fusuk dan jidal).
7) Memotong pepohonan di tanah haram.
8) Apabila tersedia alasan yang bisa diterima syara’ layaknya kenakan masker demi kesehatan, perban kepala bagi pria yang tersedia luka kepala, wanita menutup muka demi kehormatannya didepan orang asing (ajnabi), maka itu dibolehkan.
9) Saat shalat dilarang kenakan masker bagi wanita dan pria.

5. Kaifiat Pelaksanaan Ibadah Haji
Pelaksanaan Ibadah haji bisa dijalankan bersama dengan 3 (tiga) macam jenis yakni :
a) Haji Tamattu’ yakni : seseorang laksanakan ibadah umrah pada bulan-bulan haji sesudah itu dilanjutkannya bersama dengan mengerjakan haji pada bulan itu juga tanpa lagi ketempat miqat semula. melaksanakan ibadah haji layaknya ini dikenakan pembayaran dam nusuk.
b) Haji Ifrad yakni : seseorang mengerjakan haji saja tanpa ibadah umrah, namun umrahnya bisa dilakukannya setelah pelaksanaan ibadah haji. Cara layaknya tidak dikenakan dam (denda).
c) Haji Qiran yakni : seseorang mengerjakan haji dan umrah secara berbarengan didalam satu tekad ihram. Cara laksanakan ibadah haji secam ini juga dikenakan dam.

Rangkuman
Manasik haji merupakan sebuah kesibukan pelatihan bagi calon jamaah yang bakal menunaikan ibadah umrah dan haji. Sebelum jamaah haji berangkat ketanah suci, mereka diajarkan dan dibekali rencana ilmu ilmu dan makna-makna yang terdapat didalam ibadah umrah dan haji. Disamping diajarkan secara teori juga diajarkan didalam wujud demontstrasi pelaksanaan ibadah umrah dan haji bersama dengan mempergunakan alat peraga layaknya ka’bah mini, jamarat, maket sa’i, wukuf, dan tahalul.
Kegiatan manasik bertujuan untuk mempermudah pemahaman dan membekali setiap jamaah haji. Pembelajaran manasik jadi pedoman bagi mereka didalam laksanakan haji dan umrah sesuai bersama dengan alur gerak dan tempat kesibukan ibadah. Dengan ikuti bimbingan manasik para calon jamaah haji bisa menyadari tata cara kesibukan ibadah secara berdiri sendiri yang bakal dijalankan selama mereka berada tanah suci.
Materi inti yang diajarkan didalam kesibukan manasik haji adalah rencana dasar umrah yang terdiri pengertian, syarat, rukun dan harus umrah serta larangan-larangan didalam laksanakan ibadah umrah. Disamping itu dijelaskan pula berkenaan rencana dasar haji yakni pengertian, syarat, rukun dan harus haji serta dam dan larangan-larangan didalam berhaji.

Reply